Sudut Ekonomi Islam

Dalam sudut ekonomi ini, ia merupakan penulisan pertama pelitaperjalanan untuk artikel berkaitan ekonomi di sudut ini. Pelita perjalanan(penulis), tergerak untuk mencuba menjadi cahaya dikala suramnya dunia dengan propaganda Yahudi dan Nasara yang tidak akan sesekali meredhai kita, selagi mana akidah kita tidak berpaling, semoga Allah swt menjadikan semua Muslim yang taat ini cahaya yang terus menerangi dunia yang kian tua dan uzur ini.Waluapun sekecil mana sekalipun usaha kita semoga ada sinar di situ. Jangan bisa sekali membiar Muslim yang melata di dunia kini menjadi air yang cuba memadam pelita keimanan dihati-hati umat hari ini.

Melalaui artikel yang saya datangkan dengan ringkas adalah molek dibicarakan soal ekonomi ini dengan dasarnya. Artikel ringkas ini dikongsi dari ekonomis Islami Indonesia, saya menulis dengan bahasa mudah untuk rakyat Malaysia. Ketika mana umat Islam ini terus bicara soal Ekonomi itu sama hampir dengan kewangan (ekonomi Islam = perbankan Islam), maka sedih sekali pelita perjalanan(penulis) melihat gelagat penyoal pengguna Muslim apabila tidak mahu mengetahui asal mana hasilnya perbankan Islam.

Sedih bila ruangan Zaharuddin.Net(laman Islami yang dipenuhi perihal kewangan Islam) diadu domba oleh duniawi Muslim yang tidak dapat menerima pandangan Ustaz Zaharuddin yang penuh himah kiranya pada perkiraan pelitaperjalanan, ianya berlaku kesan sukelarisme ekonomi berlaku hari ini. Banyak memandang keuntungan(profit) dari kebajikan dan pahala serta keredhaan harta. Tak kurang juga sanggup menolak kerana ektremis bangsa(perniagaan Melayu) tanpa melihat halal haram sesuatu transaksi dilakukan.

Tanpa bicara panjang pelita perjalanan ingin menerangkan perihal keinginan dan kehendak(apa persamaan dan perbezaan) dalam penentuan pembelian barang oleh pengguna dalam sesuatu pasaran. Apa perspektif Islam?






VS







Kehendak lwn Keinginan


Aktiviti ekonomi memang bermula dari kehendak fizikal manusia itu untuk dapat terus hidup (survive) di dunia ini. Segala keperluan untuk bertahan hidup akan sekuat tenaga diusahakan sendiri, namun ketika kehendak untuk hidup itu tidak dapat dipenuhi sendiri dan kehidupan manusia memang tidak bersifat individual tapi sosial (kolektif), maka terjadilah interaksi pemenuhan kehendak hidup diantara para manusia. Interaksi inilah yang sebenarnya merepresentasikan interaksi permintaan dan penawaran, interaksi pengguna dan pengeluar, sehingga muncullah pasaran sebagai wadah interaksi ekonomi ini.


Pemenuhan keperluan hidup manusia ini secara terperinci memiliki tahapan-tahapan (peringkat). Berdasarkan teori Maslow, keperluan hidup itu berawal dari memenuhi keperluan hidup yang bersifat 'kehendak dasar' (basic needs), kemudian pemenuhan keperluan hidup yang lebih tinggi secara terperinci adalah seperti keamanan, keselesaan dan kemewahan. Namun perlu difahami bahwa teori Maslow ini jelas merujuk pada lingkungan pemikiran konvensional yang menggunakan perspektif individualistik-materialistik.

Sementara dalam Islam tahap memenuhi keperluan hidup dari seseorang atau individu boleh diumpamakan seperti yang Maslow gambarkan, tapi perlu dijelaskan lebih dengan jelas bahwa kepuasan keperluan hidup setelah peringkat pertama (memenuhi kehendak dasar) akan dilakukan ketika mana jumlah keperluan kehendak dasar tadi sudah berada dikedudukan yang aman. Ertinya masyarakat (umat) sudah dipenuhi kehendak dasarnya(keperluan asas), sehingga tidak akan ada implikasi negatif(sifat mazmumah) yang bakal muncul kesan memenuhi kehendak dasar tadi yang belum sempurna wujud. Jadi keperluan peranan suatu penguasa(autoriti) atau negara dalam memastikan itu semua. Seperti yang nanti dijelaskan dalam bab selanjutnya, bahwa memang ada beberapa mekanisme dalam sistem ekonomi Islam yang tidak akan berjalan efektif jika tidak ada campur tangan negara.

Selain itu perlu difahami juga bahwa ukuran kepuasan Islam bukan hanya terbatas pada benda-benda konkrit (material), tapi juga tergantung pada sesuatu yang bersifat abstrak, seperti amal soleh yang manusia lakukan. Atau dengan kata lain, bahwa kepuasan dapat timbul dan dirasakan oleh seorang manusia muslim ketika harapan mendapat kredit point (pahala) dari Allah SWT melalui amal solehnya semakin besar. Pandangan ini tersirat dari perbahasan ekonomi yang dilakukan oleh Hasan Al Banna.[1] Beliau mengungkapkan firman Allah yang mengatakan:

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya zahir dan batin.” (QS. Lukman: 20)

Apa yang diungkapkan oleh Hasan Al Banna ini semakin menegaskan bahwa ruang lingkup keilmuan ekonomi Islam lebih luas dibandingkan dengan ekonomi konvensional. Ekonomi Islam bukan hanya berbicara tentang kepuasan material yang bersifat fizikal, tapi juga berbicara cukup luas tentang kepuasan material yang bersifat abstrak, pemuasan yang lebih berkaitan dengan posisi manusia sebagai hamba Allah SWT.

Umer Chapra (2000) mencuba menjelaskan maksud Imam Al Ghazali dalam mendefinisikan fungsi syariah dalam Islam. Al Ghazali mendefinisikan bahwa fungsi Syariah adalah untuk mensejahterakan seluruh manusia melalui perlindungan agama, diri manusia, akal, keturunan dan harta. Chapra menyimpulkan bahwa dengan memasukkan jiwa manusia, akal dan keturunan di dalam model-model ekonomi, adalah mungkin untuk menciptakan kepuasan yang seimbang dari berbagai kepentingan manusia.

Dari pembahasan keperluan hidup manusia dan tahapannya tadi, sebenarnya juga penting untuk di bahas apa perbedaan kehendak dan keinginan dalam ekonomi Islam yang mendapat perhatian tidak kurang besarnya. Karena kedua motif tadi akan disignifikan dengan membedakan corak atau karakteristik aktiviti ekonomi.

Islam memiliki nilai moral yang begitu ketat dalam memasukkan “keinginan” (wants) dalam motif aktiviti ekonomi. Mengapa? Dalam banyak ketentuan prilaku ekonomi Islam, dominasi motif “kehendak” (needs) menjadi nafas dalam perekonomian bernilai moral Islam ini, bukan keinginan. Apa perbezaan dan persamaannya?

Kehendak (needs) lebih didefinisikan sebagai segala keperluan dasar manusia untuk kehidupannya. Sementara keinginan (wants) didefinisikan sebagai desire (kemahuan)[2] manusia atas segala hal. Jadi ruang lingkup definisi keinginan akan lebih luas dari definisi kehendak. Contoh sederhana dalam menggambarkan perbedaan kedua kata ini dapat dilihat dalam penggunaan manusia pada air untuk menghilangkan dahaga. Kehendak seseorang untuk menghilangkan dahaga mungkin akan cukup dengan segelas air putih, tapi seseorang dengan kemampuan dan keinginannya dapat saja memenuhi kebutuhan itu dengan segelas wishky, yang tentu lebih mahal dan lebih memuaskan keinginan.

Memang diakui bahwa perbezaan keinginan dan kehendak begitu berkait diantara satu manusia dengan manusia lain. Salah satu faktor yang cukup menentukan dalam membezakan keduanya adalah menilai keduanya menggunakan perspektif kolektifitas (kebersamaan atau kejama’ahan). Dan inilah yang sebenarnya ukuran umum yang harus digunakan dalam menilai sebuah kemanfaatan dari sesuatu termasuk mengidentifikasi perbedaan antara keinginan dan kehendak. Dengan kebersamaan kita dapat menilai seperti apa keadaan lingkungan manusia di sekitar kita, sehingga dengan sangat mudah kita dapat menentukan apakah tindakan kita itu mencerminkan kehendak atau keinginan.

Namun perlu juga diingat bahwa konsep keperluan dasar dalam Islam ini sifatnya tidak statistik, ertinya keperluan dasar pelaku ekonomi bersifat dinamis merujuk pada tingkat ekonomi yang ada pada masyarakat. Sehingga pada tingkat ekonomi tertentu sebuah barang yang dulu lebih digunakan akibat motivasi keinginan, pada tingkat ekonomi yang lebih baik barang tersebut telah menjadi kehendak. Jadi ukuran yang membedakan definisi kehendak dan keinginan ini (sekali lagi) tidak statik, ia bergantung pada kondisi(suasana) perekonomian serta ukuran kemashlahatan. Dengan standard kamashlahatan penggunaan barang tertentu maka dapat saja dinilai kurang, ketika sebagian besar ummat atau masyarakat dalam keadaan susah.

Dengan demikian sangat jelas terlihat bahwa prilaku ekonomi Islam tidak didominasi oleh nilai alamiah yang dimiliki oleh setiap individu manusia, ada nilai diluar diri manusia yang kemudian membentuk prilaku ekonomi mereka. Dan nilai tersebut adalah Islam itu sendiri, yang diyakini sebagai tuntunan utama dalam hidup dan kehidupan manusia. Jadi berkaitan dengan variabel keinginan dan kebutuhan ini, Islam sebenarnya cenderung mendorong keinginan pelaku ekonomi sama dengan kehendaknya. Dengan segala nilai dan norma yang ada dalam akidah dan akhlak Islam, peleburan atau asimilasi keinginan dan kebutuhan dimungkinkan untuk terjadi.

Peleburan keinginan dengan kehendak dalam diri manusia Islam terjadi melalui pemahaman dan pengamalan akidah dan akhlak yang baik (Islamic norms). Sehingga
ketika asimilasi itu terjadi, maka terbentuklah pribadi-pribadi muslim (homo-islamicus) yang kemudian menentukan prilaku ekonominya yang asli yang mana bersumber dari Islam. Dan secara simulasi yang semulajadi, ekonomi tentu akan mengkristal menjadi sistem yang jelas berbeda dengan sistem ekonomi yang telah digunapakai saat ini.
[1] Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Intermedia, Jakarta 1997. pp. 387-409.
[2] Meskipun kata kamahuan ini juga kurang tepat untuk menggambarkan "desire".

1 komen:

UII OFFICIAL (visit their site)

Terimakasih Infonya
sangat bermanfaat..
Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Ekonomi di UII Yogyakarta
:)
twitter : @profiluii